Jumat, 25 September 2015

Cerpen SMA(romance); "Dia Yang Hilang"



Dia Yang Hilang
Mengawali awal libur panjang di musim panas. Mentari tampak malu malu muncul dari peraduannya. Sinarnya masuk ke kamarku melalui celah celah ventilasi yang tak tertutupi gorden. Cahayanya yang terik menyilaukan mata mulai mengusikku. Kutarik malas malas selimutku menutupi mata. Tapi apadaya tidurku sedari tadi memang sudah terusik. Mataku berat berat mulai terbuka. Dengan setengah mengantuk, Kutatapi langit langit kamar hingga kudapati kesadaranku sedikit demi sedikit. Mata yang masih malas ini kupaksa melirik weker yang berada disekitaran pojok kiri atas kasurku. Sengaja kuataruh disana agar mempermudahku mengetahui hari sudah pukul berapa tanpa harus membuat beberapa langkah kearah meja belajar atau almari yang berjarak 4 atau 5 langkah dari tepi kasur. Tak cuma itu, suara wekernya yang nyaring biasa membantuku agar bangun lebih pagi. Walaupun tak jarang jika wekerku bunyi, tak perduli sudah pukul berapa.. ia langsung kumatikan dan kembali tidur melanjutkan mimpi. Hari ini alarmnya sengaja kumatikan agar tak memecah tidurku. Sudah bosan aku mendengar bunyi alarm yang mengangetkan itu.
 Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Ini memang tak seperti biasanya. Dimana aku selalu bangun sekitaran pukul 4.30 sampai pukul  5.00 pagi. Hari ini sengaja tak bangun sepagi itu karena mumpung lagi liburan plus akunya lagi PMS. Jadi,, gak perlu belain bangun subuh subuh buat ambil air whudu deh.
Udara di dalam kamar mulai terasa pengap. Jendela kayu bersegel besi dengan karat kekuningan yang terletak disebelah kiri kasur kubuka. Segar terasa udara pagi hari ini. Kicauan burung pipit peliharaan tetangga terdengan merdu. Suara deru mesin motor yang dipanaskan bapak mulai terdengar. Suara anak anak kecil yang bercengkerama menambah ramai gang rumahku. Ditengah tengah suara suara tersebut,, telingaku  menangkap suara mirip kring kringan yang ternyata itu suara notif ponselku. Bergegas aku kearah meja belajar letak ponselku yang sedang dicharging sejak tadi malam. Kucheck notif tersebut yang merupakan notification dari fb. Dari sekian banyak notif yang ada,, mataku tertuju pada sebuah notif tag photo dari Wahyu, teman sekelasku waktu kelas sepuluh dulu. Sekarang kami sudah pisah pisah kelas semenjak pembagian prodi waktu kelas 11.
Photo yang ditag wahyu ternyata ialah photo bersama teman teman sekelas kami saat hari hari akhir semester dua. Wajah kami saat itu nampak masih polos polosnya. Melihat photo tersebut jadi kangen masa masa kelas 10 dulu. Melihat photo tersebut mataku tak sengaja terarah pada pojok atas photo. Tempat deretan anak laki laki dikelas kami berada. Mataku santer melihat pada sosok yang berbaris paling ujung. Si cowok dengan rambut klimis tanpa senyum tersebut. Ialah Haikal Ramadhan si cowok paling pendiam dikelas dulu.
Melihat ia, teringat lagi aku akan kisah 2 tahun yang lalu. Haikal adalah cowok paling pendiam dikelas. Bisa dibilang jarang sekali teman teman mendengar ia berbicara, apalagi ngobrol. Mungkin karena sifatnya itu ia jadi diperlakukan beda oleh anak anak cowok lainnya. Tak jarang Haikal sering dikerjai. Aku yang melihatnya, jadi merasa kasihan. Aku sebenarnya penasaran dengan sosok Haikal yang berbeda dari yang lain. Aku dan diapun mempunyai kesamaan sama sama introvert. Bedanya introvertku tak separah dia.
Aku dan Haikal mulai dekat saat tiba tiba ia mengsmsku. Awalnya aku abaikan karena tak percaya jika itu Haikal. Tapi, saat ia memberanikan diri untuk menelponku. Walaupun Cuma beberapa detik, tapi setelah mendengar suaranya yang bisa dibilang lumayan khas dan beda,, akupun percaya. Saat kutanya ada apa, jawaban Haikal tak beda dengan jawaban jawaban cowok biasanya yang lagi pengen deket sama cewek. Awalnya terasa agak aneh sih, klo si cowok paling introvert dikelas ini pengen deket sama aku. Tapi tak apalah, anggep aja nambah nambah temen.
Seiring berjalannya waktu. Karena seringnya kami sms’an, aku dan Haikal mulai bertambah dekat. Kami sering sharing tentang berbagai hal. Akupun jadi tau tentang hal apa yang disukai dan dibencinya, begitupun dia sebaliknya. Akupun tau Haikal yang sebenarnya seperti apa. Ia adalah sosok perhatian dan cukup warming. Walaupun begitu, teman teman dikelas tak ada yang tau tentang kedekatan kami. Aku sengaja menyembunyikannya dari siapapun untuk menghindari gossip yang tidak tidak antara aku dan Haikal.
Keakrabanku dan Haikal tak berlangsung lama saat tiba tiba sepulang sekolah Haikal nyatain perasaan cintanya ke aku. Jujur, itu membuatku sangat risih. Aku memang menyukai Haikal, tapi hanya sebatas teman, tak lebih. Awalnya Haikal bilang tak apa dengan jawabanku yang hanya menginginkannya cuma sebagai teman. Haikal kerap sekali ingin membelikanku barang, tapi selalu kutolak tegas. Aku bukan cewek matre yang dengan mudahnya jatuh ketangan seorang cowok setelah diberikan barang.
Tak lama, Haikal lagi lagi nyatain perasaannya ke aku dengan kalimat yang mencoba meyakiniku dan terdengar agak memaksa. Ia mulai mengsmsku dengan berbagai kalimat cinta. Aku mulai males ngebales smsnya. Jujur, aku gak suka dan muak akan sikapnya padaku. Aku sungguh kecewa dengan sifat Haikal saat itu. Aku merasa ia tak memahamiku.
Aku berhenti ngebales sms dari Haikal. Walaupun ia sudah sering minta maaf dengan sikapnya. Tapi, aku sudah terlanjur kecewa. Karena seringnya ia sms bahkan chatting akupun mulai merasa lelah. Tak jarang aku kemudian membalas chatnya dengan kata kata kasar. Kadang aku merasa bersalah dengan kata kata yang kukatakan padanya. Tapi, ya mau gimana lagi.
Awalnya Haikal tak perduli dengan kata kata kasar yang sering kulontarkan padanya. Tapi tak lama kemudian,, ia berhenti menghubungiku. Kadang aku kepikiran betapa sakit hatinya Haikal dengan ucapan ucapanku padanya. Sungguh aku merasa bersalah. Sempat terpikir olehku untuk memperbaiki hubungan padanya. Tapi urung kulakukan karena nanti takutku malah membuat tumbuh perasaan cinta Haikal padaku.
Waktu berlalu, dan tahun ajaran baru dimulai. Aku dan Haikalpun berbeda kelas. Kerap aku berpapasan dengannya. Tak jarang pula kami saling lirik meski tak pernah saling bicara. Rasanya, aku sudah mulai memaafkan Haikal. Tak lama kemudian, aku tak pernah bertemu dengannya. Aku sempat bertanya Tanya kemana Haikal. Haikal ternyata memutuskan untuk pindah sekolah. Dan entah kenapa aku jadi sedikit kesepian. Mungkinkah ini perasaan kehilangan atau hanya perasaan bersalah karena apa yang telah kulakukan padanya, sampai sekarang aku tak paham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar