Dia Yang Hilang
Mengawali awal
libur panjang di musim panas. Mentari tampak malu malu muncul dari peraduannya.
Sinarnya masuk ke kamarku melalui celah celah ventilasi yang tak tertutupi
gorden. Cahayanya yang terik menyilaukan mata mulai mengusikku. Kutarik malas
malas selimutku menutupi mata. Tapi apadaya tidurku sedari tadi memang sudah
terusik. Mataku berat berat mulai terbuka. Dengan setengah mengantuk, Kutatapi
langit langit kamar hingga kudapati kesadaranku sedikit demi sedikit. Mata yang
masih malas ini kupaksa melirik weker yang berada disekitaran pojok kiri atas
kasurku. Sengaja kuataruh disana agar mempermudahku mengetahui hari sudah pukul
berapa tanpa harus membuat beberapa langkah kearah meja belajar atau almari yang
berjarak 4 atau 5 langkah dari tepi kasur. Tak cuma itu, suara wekernya yang
nyaring biasa membantuku agar bangun lebih pagi. Walaupun tak jarang jika
wekerku bunyi, tak perduli sudah pukul berapa.. ia langsung kumatikan dan
kembali tidur melanjutkan mimpi. Hari ini alarmnya sengaja kumatikan agar tak
memecah tidurku. Sudah bosan aku mendengar bunyi alarm yang mengangetkan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Ini
memang tak seperti biasanya. Dimana aku selalu bangun sekitaran pukul 4.30
sampai pukul 5.00 pagi. Hari ini sengaja
tak bangun sepagi itu karena mumpung lagi liburan plus akunya lagi PMS. Jadi,,
gak perlu belain bangun subuh subuh buat ambil air whudu deh.
Udara di dalam
kamar mulai terasa pengap. Jendela kayu bersegel besi dengan karat kekuningan
yang terletak disebelah kiri kasur kubuka. Segar terasa udara pagi hari ini. Kicauan
burung pipit peliharaan tetangga terdengan merdu. Suara deru mesin motor yang
dipanaskan bapak mulai terdengar. Suara anak anak kecil yang bercengkerama
menambah ramai gang rumahku. Ditengah tengah suara suara tersebut,, telingaku menangkap suara mirip kring kringan yang
ternyata itu suara notif ponselku. Bergegas aku kearah meja belajar letak
ponselku yang sedang dicharging sejak tadi malam. Kucheck notif tersebut yang
merupakan notification dari fb. Dari sekian banyak notif yang ada,, mataku
tertuju pada sebuah notif tag photo dari Wahyu, teman sekelasku waktu kelas
sepuluh dulu. Sekarang kami sudah pisah pisah kelas semenjak pembagian prodi
waktu kelas 11.
Photo yang ditag
wahyu ternyata ialah photo bersama teman teman sekelas kami saat hari hari
akhir semester dua. Wajah kami saat itu nampak masih polos polosnya. Melihat
photo tersebut jadi kangen masa masa kelas 10 dulu. Melihat photo tersebut
mataku tak sengaja terarah pada pojok atas photo. Tempat deretan anak laki laki
dikelas kami berada. Mataku santer melihat pada sosok yang berbaris paling
ujung. Si cowok dengan rambut klimis tanpa senyum tersebut. Ialah Haikal
Ramadhan si cowok paling pendiam dikelas dulu.
Melihat ia,
teringat lagi aku akan kisah 2 tahun yang lalu. Haikal adalah cowok paling
pendiam dikelas. Bisa dibilang jarang sekali teman teman mendengar ia
berbicara, apalagi ngobrol. Mungkin karena sifatnya itu ia jadi diperlakukan
beda oleh anak anak cowok lainnya. Tak jarang Haikal sering dikerjai. Aku yang
melihatnya, jadi merasa kasihan. Aku sebenarnya penasaran dengan sosok Haikal
yang berbeda dari yang lain. Aku dan diapun mempunyai kesamaan sama sama
introvert. Bedanya introvertku tak separah dia.
Aku dan Haikal mulai
dekat saat tiba tiba ia mengsmsku. Awalnya aku abaikan karena tak percaya jika
itu Haikal. Tapi, saat ia memberanikan diri untuk menelponku. Walaupun Cuma
beberapa detik, tapi setelah mendengar suaranya yang bisa dibilang lumayan khas
dan beda,, akupun percaya. Saat kutanya ada apa, jawaban Haikal tak beda dengan
jawaban jawaban cowok biasanya yang lagi pengen deket sama cewek. Awalnya terasa
agak aneh sih, klo si cowok paling introvert dikelas ini pengen deket sama aku.
Tapi tak apalah, anggep aja nambah nambah temen.
Seiring
berjalannya waktu. Karena seringnya kami sms’an, aku dan Haikal mulai bertambah
dekat. Kami sering sharing tentang berbagai hal. Akupun jadi tau tentang hal
apa yang disukai dan dibencinya, begitupun dia sebaliknya. Akupun tau Haikal
yang sebenarnya seperti apa. Ia adalah sosok perhatian dan cukup warming. Walaupun
begitu, teman teman dikelas tak ada yang tau tentang kedekatan kami. Aku
sengaja menyembunyikannya dari siapapun untuk menghindari gossip yang tidak
tidak antara aku dan Haikal.
Keakrabanku dan
Haikal tak berlangsung lama saat tiba tiba sepulang sekolah Haikal nyatain
perasaan cintanya ke aku. Jujur, itu membuatku sangat risih. Aku memang
menyukai Haikal, tapi hanya sebatas teman, tak lebih. Awalnya Haikal bilang tak
apa dengan jawabanku yang hanya menginginkannya cuma sebagai teman. Haikal
kerap sekali ingin membelikanku barang, tapi selalu kutolak tegas. Aku bukan
cewek matre yang dengan mudahnya jatuh ketangan seorang cowok setelah diberikan
barang.
Tak lama, Haikal
lagi lagi nyatain perasaannya ke aku dengan kalimat yang mencoba meyakiniku dan
terdengar agak memaksa. Ia mulai mengsmsku dengan berbagai kalimat cinta. Aku
mulai males ngebales smsnya. Jujur, aku gak suka dan muak akan sikapnya padaku.
Aku sungguh kecewa dengan sifat Haikal saat itu. Aku merasa ia tak memahamiku.
Aku berhenti
ngebales sms dari Haikal. Walaupun ia sudah sering minta maaf dengan sikapnya.
Tapi, aku sudah terlanjur kecewa. Karena seringnya ia sms bahkan chatting
akupun mulai merasa lelah. Tak jarang aku kemudian membalas chatnya dengan kata
kata kasar. Kadang aku merasa bersalah dengan kata kata yang kukatakan padanya.
Tapi, ya mau gimana lagi.
Awalnya Haikal
tak perduli dengan kata kata kasar yang sering kulontarkan padanya. Tapi tak
lama kemudian,, ia berhenti menghubungiku. Kadang aku kepikiran betapa sakit
hatinya Haikal dengan ucapan ucapanku padanya. Sungguh aku merasa bersalah.
Sempat terpikir olehku untuk memperbaiki hubungan padanya. Tapi urung kulakukan
karena nanti takutku malah membuat tumbuh perasaan cinta Haikal padaku.
Waktu berlalu,
dan tahun ajaran baru dimulai. Aku dan Haikalpun berbeda kelas. Kerap aku
berpapasan dengannya. Tak jarang pula kami saling lirik meski tak pernah saling
bicara. Rasanya, aku sudah mulai memaafkan Haikal. Tak lama kemudian, aku tak
pernah bertemu dengannya. Aku sempat bertanya Tanya kemana Haikal. Haikal
ternyata memutuskan untuk pindah sekolah. Dan entah kenapa aku jadi sedikit
kesepian. Mungkinkah ini perasaan kehilangan atau hanya perasaan bersalah
karena apa yang telah kulakukan padanya, sampai sekarang aku tak paham.